Sabtu, hari dengan
sejuta ketenangan, hari yang tepat untuk mengurangi tekanan pikiran saat berada
di sekolah. Di sekolah gue jam pertama dihari Sabtu diisi dengan Sabsih atau
Sabtu bersih. Sabtu bersih adalah suatu kegiatan bersih-bersih di kelas
masing-masing yang sangat bahkan begitu penting bagi sekolah gue. Iya bagi
sekolah gue. Dipagi hari itu, gue selalu dipusingkan dengan apa yang
harus gue kerjakan atau apa yang harus gue bersihkan. Sebenarnya ada
pekerjaan yang cocok buat gue, tapi pekerjaan ini ramai peminatnya, kalian tau,
menghapus board. Hanya modal pegang penghapus board dan wallaaaa!! kalian
tidak akan terlihat seperti pengangguran luntang-lantung mencari pekerjaan.
Sabsih dimulai bukan
karena bel masuk sekolah berbunyi, tetapi ketika senandung megafon
berkumandang. Suara yang memekikan telinga. Siapapun yang mendengarnya pasti
merasa panik. Apalagi jika yang membawa megafon tersebut adalah guru ganteng
berkumis tebal. PR yang sedang dikerjakan akan ditinggalkan, sarapan yang
sedang dimakan akan ditelan bula-bulat, upil yang dikorek akan keluar dengan
sendirinya.
Disaat inilah gue dan
yang lain mulai mencari lowongan pekerjaan. Kami saling berebut sapu, kispray,
penghapus board, lap pel dan jika ada yang tidak mendapatkan salah
satu alat kebersihan itu, mereka akan jongkok didepan kelas, menghadap selokan,
mengambil daun-daun kering. Melakukan pekerjaan remeh-temeh yang paling hina,
dan gue melakukan hal itu. Memang Sabsih itu banyak manfaat, tapi anehnya gue
merasa dirodi tiap hari sabtu. Paradigma gue perlu diperbaiki.
Beres sudah Sabsih.
Lanjut dengan pelajaran agama, gue duduk dipojok kiri, barisan gue persis
menghadap meja guru. Hari itu kami belajar tentang mawaris. Gue kira ketika
belajar agama kita tidak akan pernah bertemu dengan hitung-hitungan. Dan hari
itu muncul, dihari itu, sabtu itu, pagi itu, sepotong musibah muncul. Matematika
hadir dalam agama. Tambah, kurang, bagi, kali, semua datang dalam satu paket.
Penuh kejutan.
Agama selesai. Sebelum
gurunya keluar, kejutan lain datang. Guru biologi sekaligus wali kelas gue
datang lebih cepat dari biasanya. Bahkan dia tidak menyadari didalam kelas gue
masih ada guru agama. Masih belum habis rasa kaget dari surprise mawaris,
akhirnya gue shocked pagi itu, gue stress, gue jadi gila,
rambut gue langsung berantakan, tiba-tiba gue bugil, lalu lari keluar sambil
ketawa dan korek-korek tong sampah depan kelas.
Lamunan gue terhenti
ketika kertas soal biologi sampai dimeja gue. Seperti biasa, setelah minggu
lalu Tes Uji Coba, saatnya guru mulai membahas soal yang telah diberikan di TUC
tersebut. Saat itu gue duduk dengan si curly. Mata kami bersamaan
melihat soal yang baru datang, lalu kami bertatap muka, dan kami tertawa.
Menyedihkan, kami tertawa bukan karena mengerti, tapi karena kami tidak mampu
dan kami sama sekali tidak ingat dengan jawaban yang dulu kami isi. Semua murid
diperintahkan untuk membaca soal lalu menjawabnya dengan bergilir. Nomor satu
dimulai dari baris kiri paling depan dan dilanjutkan paralel kearah kanan. Kami
berdua langsung menghitung untuk mengetahui dapat nomor berapa pada soal itu.
Gue nomor 28 dan si curly nomor selanjutnya. Setelahnya kami
langsung melihat soal dan… gelap. Kami berdua tidak tau jawabannya, panik, gue
langsung bergegas mencari jawaban kebangku sebelah kanan dan curly kebangku
depan. Seperti disengaja mereka kompak menjawab tidak tau
Dengan bekal ‘kami
pernah pintar’ akhirnya terpilihlah satu jawaban dari lima pilihan. Beruntung
jawaban gue benar, lebih beruntung si curly karena soalnya
dianulir. Pukul 09.30 pembahasan selesai, dan guru biologi mengakhiri pelajaran
hari itu, cepat sekali kami pulang.