Entradas populares

Aku Berangkat

Bagian I

Bandung, 2015

Seperti biasa, langit Kota Bandung selalu terlihat cerah dipagi hari. Sedikitpun tak terlihat awan menggantung diluasnya kanvas biru langit. Udara dingin masuk melalui pintu kost-san ku yang sengaja aku buka, menerobos kulitku, lalu menemaniku yang sedari tadi duduk memainkan laptop. Hari ini tidak ada jadwal untuk kuliah, akhirnya aku bisa sedikit beristirahat dari padatnya jadwal sebagai mahasiswa baru. Senin kosong, Selasa sampai Kamis kuliah, Jumat UKM, Sabtu tutorial keagamaan, Minggu ospek jurusan. Sebagai anak kost, libur satu hari benar-benar tidak cukup. Nyuci, nyetrika, meli dengeun sangu, anjir seriusan hayang piknik!.
Kuarahkan cursor menuju localdisk-D, klik, selanjutnya tanda panah bergerak menuju folder Rizqi, klik, lalu folder foto, klik, dan terakhir folder smansa, klik. Awalnya aku hanya ingin mengambil salah satu foto SMA untuk dijadikan foto profil akun sosial media, tetapi setelah membuka satu-persatu foto, aku malah terjatuh dan terjun ke dalam kenangan-kenangan tentang kamu, dia, kita, dan mereka pada kala putih abu-abu.

Catatan Tujuh Maret 2015

Sabtu, hari dengan sejuta ketenangan, hari yang tepat untuk mengurangi tekanan pikiran saat berada di sekolah. Di sekolah gue jam pertama dihari Sabtu diisi dengan Sabsih atau Sabtu bersih. Sabtu bersih adalah suatu kegiatan bersih-bersih di kelas masing-masing yang sangat bahkan begitu penting bagi sekolah gue. Iya bagi sekolah gue. Dipagi hari itu, gue selalu dipusingkan dengan apa yang harus gue kerjakan atau apa yang harus gue bersihkan. Sebenarnya ada pekerjaan yang cocok buat gue, tapi pekerjaan ini ramai peminatnya, kalian tau, menghapus board. Hanya modal pegang penghapus board dan wallaaaa!! kalian tidak akan terlihat seperti pengangguran luntang-lantung mencari pekerjaan.
Sabsih dimulai bukan karena bel masuk sekolah berbunyi, tetapi ketika senandung megafon berkumandang. Suara yang memekikan telinga. Siapapun yang mendengarnya pasti merasa panik. Apalagi jika yang membawa megafon tersebut adalah guru ganteng berkumis tebal. PR yang sedang dikerjakan akan ditinggalkan, sarapan yang sedang dimakan akan ditelan bula-bulat, upil yang dikorek akan keluar dengan sendirinya.

Disaat inilah gue dan yang lain mulai mencari lowongan pekerjaan. Kami saling berebut sapu, kispray, penghapus board, lap pel dan jika ada yang tidak mendapatkan salah satu alat kebersihan itu, mereka akan jongkok didepan kelas, menghadap selokan, mengambil daun-daun kering. Melakukan pekerjaan remeh-temeh yang paling hina, dan gue melakukan hal itu. Memang Sabsih itu banyak manfaat, tapi anehnya gue merasa dirodi tiap hari sabtu. Paradigma gue perlu diperbaiki.
Beres sudah Sabsih. Lanjut dengan pelajaran agama, gue duduk dipojok kiri, barisan gue persis menghadap meja guru. Hari itu kami belajar tentang mawaris. Gue kira ketika belajar agama kita tidak akan pernah bertemu dengan hitung-hitungan. Dan hari itu muncul, dihari itu, sabtu itu, pagi itu, sepotong musibah muncul. Matematika hadir dalam agama. Tambah, kurang, bagi, kali, semua datang dalam satu paket. Penuh kejutan.
Agama selesai. Sebelum gurunya keluar, kejutan lain datang. Guru biologi sekaligus wali kelas gue datang lebih cepat dari biasanya. Bahkan dia tidak menyadari didalam kelas gue masih ada guru agama. Masih belum habis rasa kaget dari surprise mawaris, akhirnya gue shocked pagi itu, gue stress, gue jadi gila, rambut gue langsung berantakan, tiba-tiba gue bugil, lalu lari keluar sambil ketawa dan korek-korek tong sampah depan kelas.
Lamunan gue terhenti ketika kertas soal biologi sampai dimeja gue. Seperti biasa, setelah minggu lalu Tes Uji Coba, saatnya guru mulai membahas soal yang telah diberikan di TUC tersebut. Saat itu gue duduk dengan si curly. Mata kami bersamaan melihat soal yang baru datang, lalu kami bertatap muka, dan kami tertawa. Menyedihkan, kami tertawa bukan karena mengerti, tapi karena kami tidak mampu dan kami sama sekali tidak ingat dengan jawaban yang dulu kami isi. Semua murid diperintahkan untuk membaca soal lalu menjawabnya dengan bergilir. Nomor satu dimulai dari baris kiri paling depan dan dilanjutkan paralel kearah kanan. Kami berdua langsung menghitung untuk mengetahui dapat nomor berapa pada soal itu. Gue nomor 28 dan si curly nomor selanjutnya. Setelahnya kami langsung melihat soal dan… gelap. Kami berdua tidak tau jawabannya, panik, gue langsung bergegas mencari jawaban kebangku sebelah kanan dan curly kebangku depan. Seperti disengaja mereka kompak menjawab tidak tau
Dengan bekal ‘kami pernah pintar’ akhirnya terpilihlah satu jawaban dari lima pilihan. Beruntung jawaban gue benar, lebih beruntung si curly karena soalnya dianulir. Pukul 09.30 pembahasan selesai, dan guru biologi mengakhiri pelajaran hari itu, cepat sekali kami pulang.

Love at First Sight


Baru masuk SMP, tapi gue merasa udah jadi dewasa, karena sekarang gue pake dasi. Saking semangatnya, pukul 5 pagi gue udah sholat shubuh lengkap dengan baju seragam SMP, dan pake dasi. Gue

Selamat Pagi

Selamat pagi.
Aku tahu, saat membaca cerita ini, di tempat kalian mungkin sedang pagi, siang, sore, atau boleh jadi malah malam hari. Di tempatku ketika memulai cerita ini juga sebenarnya sedang siang, pukul 12.00. Matahari tengah berada tepat diatas kepala, menyengat panas membakar kulit.
Selamat pagi.
Bagiku waktu selalu pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut diujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh dikaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan.
Senyap. Hanya embusan angin dari luar yang mendesis pelan melalui lubang jendela yang sejak malam lupa aku tutup. Jam dinding bergerak detik demi detik, terdengar jelas suara detak jarum panjang bergerak. Bersamaan dengan kokok ayam aku bangun dari tidur. Segera setelahnya kumatikan radio yang tinggal menyeruakan gelombang tanpa signal. Jam telah menunjuk pukul 05.30. Saat kubuka tirai jendela, cahaya redup matahari pagi menelisik melalui sela-selanya. Aku terhenti beberapa menit untuk melihat matahari bergerak keluar dari balik garis langit. Sungguh pemandangan yang indah.
Kuaktifkan handphone ku. Suara notif muncul, sebuah pesan line dari teman lama. Aku lupa, seharusnya ketika malam tadi aku menepati janji untuk menceritakan bagaimana aku menjalani ulangan Biologi. Kubalas dengan emotikon yang menggambarkan ‘aku baru bangun’. Sebenarnya setiap pagi aku berharap ada yang memberiku pesan “Selamat Pagi”. Entah itu salah atau benar, menurutku selamat pagi itu bukan hanya “selamat pagi”, aku pikir didalamnya ada kata tersembunyi yang mengatakan “Aku memikirkan mu saat aku terbangun”.
Aku berjalan menuju dapur, menyeduh energen. Kembali ke ruang tamu dan meminumnya. Aku menghabiskan semuanya dalam satu kali tegukan__dengan tatapan kosong yang sedari tadi telah menyelimuti wajahku. Kembali suara notif keluar dari hp-ku, menyadarkanku dari lamunan kosong. Cih! sebuah sampah dari operator.
Mencoba membuang kebosanan, kubuka akun twitter__melihat siapa saja yang berada di timeline, semuanya hanya akun #nocomment. Diantara semua akun itu, ada sebuah tweet hasil retweet temanku. Mungkin ini sebuah kesempatan untuk menghapus rasa bosan. Aku coba mention temanku ini dengan mengomentari ava-nya yang sungguh basi bergambar anime, entah dari kapan dia memasangnya. Setidaknya rasa bosanku berkurang setelah berbalas mention dengan dia. Setelahnya aku matikan hp-ku.
Siang merangkak naik.
Ingar. Begitu bising suara kendaraan yang berlalu lalang. Sungguh menambah panas cuaca siang ini. Jam dinding yang sedari pagi terdengar detik demi detiknya telah hilang dimakan klakson mobil dan deru motor. Mataku sejak dua puluh menit tidak terlampau memperhatikan betapa sibuk jalanan dibawah sana. Padahal ini adalah hari Minggu. Entah apa yang mereka kejar dan tuju. Yang aku lihat hanya betapa derasnya jalanan ini oleh motor dan mobil yang saling salip menyalip.
Tidak ada salahnya hari ini aku memanjakan diri di rumah. Menikmati suasananya yang jarang sekali aku nikmati. Walaupun hari ini begitu bosan, setidaknya aku telah bertemu dengan pagi. Pagi yang menyelamatkanku dari satu hari melelahkan kemarin. Pagi yang menyelamatkanku dari satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan kemarin; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan. Aku sangat bersyukur hidup di dunia dimana ‘Pagi’ diciptakan.
Selamat pagi.






Total Tayangan Halaman

 

Labels

Tentang Blog

Ini hanyalah catatan keseharian seorang pria yang ingin dibagikan kepada masyarakat.
Catatanku Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger