Baru masuk SMP, tapi gue
merasa udah jadi dewasa, karena sekarang gue pake dasi. Saking semangatnya,
pukul 5 pagi gue udah sholat shubuh lengkap dengan baju seragam SMP, dan pake
dasi. Gue
Selamat Pagi
Selamat pagi.
Aku tahu, saat membaca
cerita ini, di tempat kalian mungkin sedang pagi, siang, sore, atau boleh jadi
malah malam hari. Di tempatku ketika memulai cerita ini juga sebenarnya sedang
siang, pukul 12.00. Matahari tengah berada tepat diatas kepala, menyengat panas
membakar kulit.
Selamat pagi.
Bagiku waktu selalu
pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu
paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut diujung
dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di
persawahan hingga nun jauh dikaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari
melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi
yang menyesakkan terlewati lagi; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah,
kerinduan, dan helaan napas tertahan.
Senyap. Hanya embusan
angin dari luar yang mendesis pelan melalui lubang jendela yang sejak malam
lupa aku tutup. Jam dinding bergerak detik demi detik, terdengar jelas suara
detak jarum panjang bergerak. Bersamaan dengan kokok ayam aku bangun dari
tidur. Segera setelahnya kumatikan radio yang tinggal menyeruakan gelombang
tanpa signal. Jam telah menunjuk pukul 05.30. Saat kubuka tirai jendela, cahaya
redup matahari pagi menelisik melalui sela-selanya. Aku terhenti beberapa menit
untuk melihat matahari bergerak keluar dari balik garis langit. Sungguh
pemandangan yang indah.
Kuaktifkan handphone ku.
Suara notif muncul, sebuah pesan line dari teman lama. Aku
lupa, seharusnya ketika malam tadi aku menepati janji untuk menceritakan
bagaimana aku menjalani ulangan Biologi. Kubalas dengan emotikon yang
menggambarkan ‘aku baru bangun’. Sebenarnya setiap pagi aku berharap ada yang
memberiku pesan “Selamat Pagi”. Entah itu salah atau benar, menurutku selamat
pagi itu bukan hanya “selamat pagi”, aku pikir didalamnya ada kata tersembunyi
yang mengatakan “Aku memikirkan mu saat aku terbangun”.
Aku berjalan menuju
dapur, menyeduh energen. Kembali ke ruang tamu dan meminumnya. Aku
menghabiskan semuanya dalam satu kali tegukan__dengan tatapan kosong
yang sedari tadi telah menyelimuti wajahku. Kembali suara notif keluar dari
hp-ku, menyadarkanku dari lamunan kosong. Cih! sebuah sampah
dari operator.
Mencoba membuang
kebosanan, kubuka akun twitter__melihat siapa saja yang berada di
timeline, semuanya hanya akun #nocomment. Diantara semua akun
itu, ada sebuah tweet hasil retweet temanku.
Mungkin ini sebuah kesempatan untuk menghapus rasa bosan. Aku coba mention temanku
ini dengan mengomentari ava-nya yang sungguh basi bergambar anime,
entah dari kapan dia memasangnya. Setidaknya rasa bosanku berkurang setelah
berbalas mention dengan dia. Setelahnya aku matikan hp-ku.
Siang merangkak naik.
Ingar. Begitu bising
suara kendaraan yang berlalu lalang. Sungguh menambah panas cuaca siang ini.
Jam dinding yang sedari pagi terdengar detik demi detiknya telah hilang dimakan
klakson mobil dan deru motor. Mataku sejak dua puluh menit tidak terlampau
memperhatikan betapa sibuk jalanan dibawah sana. Padahal ini adalah hari
Minggu. Entah apa yang mereka kejar dan tuju. Yang aku lihat hanya betapa
derasnya jalanan ini oleh motor dan mobil yang saling salip menyalip.
Tidak ada salahnya hari
ini aku memanjakan diri di rumah. Menikmati suasananya yang jarang sekali aku
nikmati. Walaupun hari ini begitu bosan, setidaknya aku telah bertemu dengan
pagi. Pagi yang menyelamatkanku dari satu hari melelahkan kemarin. Pagi yang
menyelamatkanku dari satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan kemarin;
malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan.
Aku sangat bersyukur hidup di dunia dimana ‘Pagi’ diciptakan.
Selamat pagi.
Potongan Cerita
Introduce
Nama gue Rizqi Agung Wibawa. Dari
kecil gue biasa dipanggil Kiki. Seiring waktu berjalan nama panggilan gue
semakin bertambah. Rizqi, Dudan, Qiraw, Si Monyet yang suka parkir sembarangan.
Begitu
Tebak-tebakan
Kalian taukan permainan
tebak-tebakan ? pasti semua tau permainan sederhana kayak gini. Permainan yang
bisa dimainin kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun. Permainan ini tuh bikin
greget,
Jerawat !
Awwww !!! Aduuhhhh !!!
Tidaaaakkk !!! Arghhhh !!! Bussyyeeett !!! Buka dikit Jossss !!! begitulah
suara gue ketika mecahin jerawat. Penyakit yang paling gue benci kalo tumbuh,
dan lebih benci
Langganan:
Postingan (Atom)
