Entradas populares

Catatan Tujuh Maret 2015

Sabtu, hari dengan sejuta ketenangan, hari yang tepat untuk mengurangi tekanan pikiran saat berada di sekolah. Di sekolah gue jam pertama dihari Sabtu diisi dengan Sabsih atau Sabtu bersih. Sabtu bersih adalah suatu kegiatan bersih-bersih di kelas masing-masing yang sangat bahkan begitu penting bagi sekolah gue. Iya bagi sekolah gue. Dipagi hari itu, gue selalu dipusingkan dengan apa yang harus gue kerjakan atau apa yang harus gue bersihkan. Sebenarnya ada pekerjaan yang cocok buat gue, tapi pekerjaan ini ramai peminatnya, kalian tau, menghapus board. Hanya modal pegang penghapus board dan wallaaaa!! kalian tidak akan terlihat seperti pengangguran luntang-lantung mencari pekerjaan.
Sabsih dimulai bukan karena bel masuk sekolah berbunyi, tetapi ketika senandung megafon berkumandang. Suara yang memekikan telinga. Siapapun yang mendengarnya pasti merasa panik. Apalagi jika yang membawa megafon tersebut adalah guru ganteng berkumis tebal. PR yang sedang dikerjakan akan ditinggalkan, sarapan yang sedang dimakan akan ditelan bula-bulat, upil yang dikorek akan keluar dengan sendirinya.

Disaat inilah gue dan yang lain mulai mencari lowongan pekerjaan. Kami saling berebut sapu, kispray, penghapus board, lap pel dan jika ada yang tidak mendapatkan salah satu alat kebersihan itu, mereka akan jongkok didepan kelas, menghadap selokan, mengambil daun-daun kering. Melakukan pekerjaan remeh-temeh yang paling hina, dan gue melakukan hal itu. Memang Sabsih itu banyak manfaat, tapi anehnya gue merasa dirodi tiap hari sabtu. Paradigma gue perlu diperbaiki.
Beres sudah Sabsih. Lanjut dengan pelajaran agama, gue duduk dipojok kiri, barisan gue persis menghadap meja guru. Hari itu kami belajar tentang mawaris. Gue kira ketika belajar agama kita tidak akan pernah bertemu dengan hitung-hitungan. Dan hari itu muncul, dihari itu, sabtu itu, pagi itu, sepotong musibah muncul. Matematika hadir dalam agama. Tambah, kurang, bagi, kali, semua datang dalam satu paket. Penuh kejutan.
Agama selesai. Sebelum gurunya keluar, kejutan lain datang. Guru biologi sekaligus wali kelas gue datang lebih cepat dari biasanya. Bahkan dia tidak menyadari didalam kelas gue masih ada guru agama. Masih belum habis rasa kaget dari surprise mawaris, akhirnya gue shocked pagi itu, gue stress, gue jadi gila, rambut gue langsung berantakan, tiba-tiba gue bugil, lalu lari keluar sambil ketawa dan korek-korek tong sampah depan kelas.
Lamunan gue terhenti ketika kertas soal biologi sampai dimeja gue. Seperti biasa, setelah minggu lalu Tes Uji Coba, saatnya guru mulai membahas soal yang telah diberikan di TUC tersebut. Saat itu gue duduk dengan si curly. Mata kami bersamaan melihat soal yang baru datang, lalu kami bertatap muka, dan kami tertawa. Menyedihkan, kami tertawa bukan karena mengerti, tapi karena kami tidak mampu dan kami sama sekali tidak ingat dengan jawaban yang dulu kami isi. Semua murid diperintahkan untuk membaca soal lalu menjawabnya dengan bergilir. Nomor satu dimulai dari baris kiri paling depan dan dilanjutkan paralel kearah kanan. Kami berdua langsung menghitung untuk mengetahui dapat nomor berapa pada soal itu. Gue nomor 28 dan si curly nomor selanjutnya. Setelahnya kami langsung melihat soal dan… gelap. Kami berdua tidak tau jawabannya, panik, gue langsung bergegas mencari jawaban kebangku sebelah kanan dan curly kebangku depan. Seperti disengaja mereka kompak menjawab tidak tau
Dengan bekal ‘kami pernah pintar’ akhirnya terpilihlah satu jawaban dari lima pilihan. Beruntung jawaban gue benar, lebih beruntung si curly karena soalnya dianulir. Pukul 09.30 pembahasan selesai, dan guru biologi mengakhiri pelajaran hari itu, cepat sekali kami pulang.
Gue lanjutkan pertarungan PES 2015 yang tertunda setelah Sabsih pagi tadi. Dua kali melawan si curly berturut-turut, hasilnya satu imbang dan satu kali gue menang. Perut keroncongan membuat gue berhenti bermain PES, gue keluar dari bangku tempat bermain PES dengan kaki kanan terlebih dahulu, lalu kaki kiri, selanjutnya gue pergi ke kantin. Gue makan di Eddie’s Café, menunya rolade, oreg tempe, kangkung, dan kuah ayam balado. Minum gue hanya ades gelas, minuman dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
Tak lupa gue baca doa sebelum dan sesudah makan. Setelah membayar, gue pergi melihat pembukaan Liga Ganesha di lapangan upacara, sebuah pekan olahraga satu tahun sekali yang diadakan di sekolah gue. Gue pergi menuju lantai dua karena akan lebih jelas terlihat kalau dari atas. Masih teringat dengan jelas saat-saat gue duduk dikelas sepuluh dan sebelas. Ketika pembukaan Liga Ganesha berlangsung, kakak-kakak kelas dua belas dengan tatapannya melihat kami semua dari atas sini. Dan sekarang waktunya gue dan anak kelas dua belas lainnya melihat dari atas sini dengan tatapan yang sama. Rasa iri. Ya, karena LG hanya diperuntukan untuk anak kelas sepuluh dan sebelas.
Pembukaanya cukup meriah. Gue kembali turun menuju kelas, terlihat dari kejauhan anak-anak kelas mulai keluar dari sarangnya sambil membawa tas. Gue baru ingat Senin besok adalah jadwal Pra-UN tingkat kabupaten, jadi kelas harus segera dikosongkan karena meja akan ditempeli kartu peserta. Sesampai dikelas gue langsung membereskan tas lalu dibawanya keluar.
Simbiosis mutualisme tiba-tiba terjadi begitu gue diluar. Gue yang pengangguran setelah diusir dari kelas bertemu dengan laptop yang sedang nganggur, gue ambil, dan akhirnya gue melakukan hobby yang sering tertunda. Dimulai dengan hal yang gue lakukann dari pagi hingga gue duduk diluar, dikursi karyu yang sengaja gue bawa dari dalam kelas dan disandarkan ke tiang lorong, menghadap jauh ke lapangan upacara. Disitu gue bisa melihat orang lalu-lalang dilorong-lorong kelas. Beriringan dengan matahari yang merangkak naik,  gue menulis titik untuk yang terakhir kalinya pada Microsoft word.

¡Compártelo!

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

 

Labels

Tentang Blog

Ini hanyalah catatan keseharian seorang pria yang ingin dibagikan kepada masyarakat.
Catatanku Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger