Satu-persatu butiran air
turun dari langit. Langit yang sedang menangis karna ditinggal oleh sang
Matahari yang selalu menemaninya selama 12 jam, sama halnya dengan seseorang
yang ditinggalkan kekasihnya.
Pukul 2 siang, gue yang
lagi ngendarai motor terpaksa harus berhenti disebuah toko bangunan yang
cukup besar. Sejenak gue berteduh dari derasnya hujan yang mulai berjatuhan. Gue duduk di kursi yang berada didepan pintu toko yang saat itu memang sedang tutup. Saat itu gue lagi ga bawa jas hujan, jadi terpaksa gue harus nunggu sampe hujan reda, sendirian…………
cukup besar. Sejenak gue berteduh dari derasnya hujan yang mulai berjatuhan. Gue duduk di kursi yang berada didepan pintu toko yang saat itu memang sedang tutup. Saat itu gue lagi ga bawa jas hujan, jadi terpaksa gue harus nunggu sampe hujan reda, sendirian…………
Sambil nunggu hujan
reda, kerjaan gue cuma ngeliatin sekitar. Disebrang jalan, gue liat ada
keluarga bahagia lagi makan baso, sepasang suami istri dan anaknya saling
menyuapi. Lalu ada keluarga bahagia lain, yang sama kaya gue lagi berteduh.
Mereka berteduh di bawah pohon, terlihat orang tua yang sedang melindungi
anaknya dari hujan dengan menggunakan jaket yang mereka kenakan.
Setelah gue liat semua
itu, gue jadi inget sesuatu. Sesuatu yang sangat penting, yang mengenalkan gue
dengan dunia ini, yang selalu melindungi gue setiap saat, yang selalu menangis
ketika gue sakit, yang mengajari gue sesuatu yang belum gue tau, yang selalu
tersenyum setiap gue bertemu dengannya, yang selalu mendukung apapun yang gue
pilih jika itu baik, dan………… yang membantu gue tumbuh sampe saat
ini.
Hari itu, gue berharap
agar hujan cepet reda, gue pengen buru-buru pulang. Gue pengen meluk 2 malaikat
bumi itu yang sangat gue sayangi, yang selalu menantikan kepulangan gue ke
rumah, tempat gue dilahiriin.
Akhirnya hujan reda, gue
bersiap untuk pulang. Sebelum pulang, gue liat ke atas langit, dan berkata
dalam hati “makasih hujan, lu udah ngingetin gue akan jasa malaikat bumi yang
gue sayangi”.

0 komentar:
Posting Komentar