Bagian I
Bandung, 2015
Seperti
biasa, langit Kota Bandung selalu terlihat cerah dipagi hari. Sedikitpun tak
terlihat awan menggantung diluasnya kanvas biru langit. Udara dingin masuk
melalui pintu kost-san ku yang sengaja aku buka, menerobos kulitku, lalu
menemaniku yang sedari tadi duduk memainkan laptop. Hari ini tidak ada jadwal
untuk kuliah, akhirnya aku bisa sedikit beristirahat dari padatnya jadwal
sebagai mahasiswa baru. Senin kosong, Selasa sampai Kamis kuliah, Jumat UKM,
Sabtu tutorial keagamaan, Minggu ospek jurusan. Sebagai anak kost, libur satu
hari benar-benar tidak cukup. Nyuci,
nyetrika, meli dengeun sangu, anjir seriusan hayang piknik!.
Kuarahkan cursor menuju localdisk-D, klik,
selanjutnya tanda panah bergerak menuju folder Rizqi, klik, lalu folder foto, klik,
dan terakhir folder smansa, klik.
Awalnya aku hanya ingin mengambil salah satu foto SMA untuk dijadikan foto
profil akun sosial media, tetapi setelah membuka satu-persatu foto, aku malah
terjatuh dan terjun ke dalam kenangan-kenangan tentang kamu, dia, kita, dan
mereka pada kala putih abu-abu.
Majalengka, 2015
Selembar
kertas putih aku bagikan ke tiap-tiap orang yang ada didalam kelasku. Tertulis
diatasnya “Formulir SNMPTN”.
“Teman-teman,
masa depan kalian ada dikertas itu. Isilah dengan bijak.” teriak ku. Sambil
membagikan aku bertanya satu-satu kepada mereka, “Lanjut kemana?”
“Aku
mah pasrah, udah pasti gak keterima. Langsung nikah ajalah” , “Rahasia” , “Ah
ntar ditikung sama kamu” , “ITB dong!” , “Masih bingung”, “Nanti juga tau
sendiri”. Dan begitulah jawaban mereka semua, yang tempo hari aku tahu apa yang
sebenarnya mereka pilih.
Adalah
jurusan Bimbingan dan Konseling, Universitas Pendidikan Indonesia yang aku
tulis dipilihan pertama pada formulir SNMPTN. Aku tertarik dengan ilmu
psikologi. Inginnya sih pilih jurusan Psikologi, hanya saja restu orang tua itu
ada dijurusan BK. Biar jadi PNS, terus kerjanya langgeng, gitu katanya. Ya gak
masalah juga, yang penting masih ruang lingkup psikologi, dan nama asli
jurusannya juga bukan Bimbingan dan Konseling, tapi Psikologi Pendidikan dan
Bimbingan. Kalau gak bisa jadi psikolog, jadi konselor juga gak kalah keren.
Ya, itupun kalau aku keterima SNMPTN.
Senin, 13 April 2015
pukul 07.15 WIB
Udara
pagi Majalengka masih terasa dingin dipergelangan tanganku. Sambil membuka
jaket nike berwarna biru dongker aku berjalan menuju kelas XII IPS 4, ruangan
dimana aku akan melaksanakan Ujian Nasional. Ada hal eksentrik yang aku lihat
pagi itu, semua orang menunduk. Bukan karena smartphone, melainkan mereka membaca buku. Sesampainya aku langsung
masuk kelas XII IPS 4, melihat-lihat apakah tempat dudukku strategis atau
tidak. Dari balik jendela sebelah kiri kelas, terlihat parkiran motor begitu
lengang, ini karena kelas X dan XI libur. Terlihat juga motor beat hitamku yang terparkir di bawah
pohon mangga, yang bisa setiap saat menjatuhkan getahnya pada jok atau helm
biru bermotif mata milikku.
UN dimulai. Satu jam
berselang, seseorang di sampingku mulai mengeluarkan secarik kertas dari dalam
saku. Lima menit kemudian terlukis kebahagiaan di wajahnya. Aku tidak tinggal
diam, kupinjam secarik kertas itu, dan tiga menit berselang, kamu tidak akan percaya
bahwa aku telah menyelesaikan ujian hari ini. Kemudian ini menjadi rutinitas
untuk hari esok, lusa, hingga UN berakhir.
Sabtu, 9 Mei 2015 pukul
17.00 WIB
Hari-hari
begitu saja berlalu. Tiba saatnya pengumuman SNMPTN. Jam pada dinding sudah
menunjuk pukul 17.50 dan pada smartphone-ku
pukul 17.30. Sengaja memang jam pada dinding aku cepatkan dua puluh menit agar
tidak terlambat ke sekolah, tapi saat ini intinya bukan itu. Sudah lewat tiga
puluh menit dan aku masih belum berani membuka pengumumannya. BBM yang sedang
jaya dimasanya terus memberi notification
dari smartphone adik-ku yang memang
saat itu aku masih menumpang BBM, karena memori internal smartphone-ku tidak mampu memuat ukuran aplikasi tersebut.
Grup
kelas IPA 5 tertiba begitu gaduh dengan pertayaan “Keterima gak?”, ada yang
membalas “Alhamdulillah”, “Engga”, “Gabisa dibuka error” ataupun “Belum berani
buka euy”, barangkali yang sebenarnya dia sudah membukanya, namun menunggu
waktu yang tepat untuk memberi tahu. Sebelumnya aku sedikit pede akan diterima karena salah seorang
teman di kelas mengatakan “Raw maneh
katarima ceuk tatangga uing”. Entah darimana tetangga temanku ini bisa tahu
bahwa aku diterima. Kuambil smartphone
adik-ku, aku buka pengumumannya. Mungkin hari itu pertama kali aku bersyukur
hingga menangis.
Sabtu, 30 Mei 2015
pukul 07.30 WIB
Aku
tak pernah mengira hari ini begitu cepat datang. Aku berjalan menuju lobi
sekolah sambil sesekali menyapa teman-teman yang penampilannya sungguh terlihat
berbeda. Bukan hanya karena kebaya, make-up,
ataupun jas yang mereka gunakan saja, tetapi memang setelah UN selesai kami
sudah jarang bertemu. Semoga semua yang
kami impikan tercapai. Aamiin. Kata-kata yang aku tulis pada sticky note, selanjutnya aku tempel pada
sebuah kain yang menggantung dekat kolam ikan.
Sambil menenteng goody bag yang berisi gelas, koran, juga
album kenangan aku berjalan kearah lapangan upacara, disana sudah ada panggung,
juga teman-teman kelasku yang sedang duduk di depannya. Acaranya begitu
membosankan. Sampai tiba saatnya wali kelas mengalungkan medali plastik
berlambang gajah keleherku. Wali kelasku menangis, tapi aku masih bisa menahan
air mataku untuk keluar.
Tidak seperti kebanyakan film yang
mempertontonkan derai air mata ketika perpisahan. Setelah acara, dengan senyum
bahagia semua orang malah berlari-lari meminta foto bareng bersama teman yang
lainnya. Tidak ada salam perpisahan, tidak ada pelukan, tidak ada tangisan
dariku saat itu. Aku hanya berdoa agar suatu saat kita dapat berkumpul lagi,
dengan keadaan baru kita, namun tidak melupakan
kenangan lama kita yang pernah dilalui bersama.
Minggu, 23 Agustus 2015
pukul 06.00 WIB
“Udah
siap ki? Gak ada yang ketinggalan?”
“Udah
Mah, insyaallah gak ada”
Pagi ini aku akan
berangkat ke Bandung. Kota yang begitu beken tapi masih asing bagiku, maklum aku dari kampung, bahkan keluaga dari Ayah dan Ibuku berada di Majalengka
semua. Ketika memilih UPI, aku sama sekali belum pernah melihat universitas ini
secara langsung, bahkan alamat di Bandungnya pun tidak tahu. Amat berat
meninggalkan keluarga, juga Majalengka. Barangkali karena aku sama sekali belum
pernah tinggal sendirian, di rumah pun aku masih belum bisa mandiri. Lalu
Majalengka, kabupaten kecil ini sudah terlalu nyaman untuk ditinggalkan.
Delapan belas tahun tinggal disini bukan waktu yang sebentar, membiarkannya
menjadi sebuah kenangan itu bukan yang aku mau. Tapi kita harus melangkah,
alhasil semua yang kita lewati akan
bermuara dan menjadi kenangan juga. Pukul 07.15 aku benar-benar berangkat. See you…







6 komentar:
Reumbay aing ki
Kemasannya keren!
Ahaha geleuh gitu wid
Thx mel, masi belajar ini juga :v
Good enough, dan tidak membosankan
Thx upi, mampir lagi kalo ada waktu wkkwk
Posting Komentar