Wangi
pengharum ruangan yang sebenarnya lebih sering dipergunakan untuk pengharum
mobil menyebar keseluruh ruangan yang memiliki 2 buah lampu philips yang entah
sejak kapan tak dapat menyala lagi, bagai sinar matahari yang baru terbit (?).
Begitupun papan tulis yang sudah kusam seperti wajah teman gue, juga dihiasi
dengan sobekan-sobekan yang penuh seni hingga membentuk Pulau Sulawesi. Gue
ngikutin arah kaki gue dengan harapan nemuin sesuatu yang indah di ruangan ini,
tapi apa yang gue liat dengan kedua
mata gue, hanya ada sebuah poster yang diberi bingkai, gambarnya seseorang pahlawan bangsa yang memiliki bulu dada yang sangat menyeramkan, dan sampai saat ini gue masih nggak ngerti maksud dari poster itu.
mata gue, hanya ada sebuah poster yang diberi bingkai, gambarnya seseorang pahlawan bangsa yang memiliki bulu dada yang sangat menyeramkan, dan sampai saat ini gue masih nggak ngerti maksud dari poster itu.
Gue
sendiri mulai putus asa dengan keadaan ruangan ini, apalagi bagian atas ruangan
yang salah satu pojokkannya terdapat lubang hitam berbentuk persegi. Entah
mengapa gue udah gak kuat lagi jalan setelah melihat keadaan ruangan ini, gue
sampe ngesot-ngesot buat nyari lagi sesuatu yang bisa disebut indah atau kurang
lebih bagus.
Kurang
lebih satu tahun gue bolak-balik ke ruangan ini, dengan melewati pintu
berhiaskan tirai biru yang oleh tangan-tangan jail dijadikan tempat untuk
membersihkan tangannya yang kotor ataupun ingusnya yang berwarna hijau, tapi
seperti yang lo semua prediksi gak pernah ada perubahan yang terjadi malah
kayaknya makin parah aja.
Sebenernya yang gue
pengenin itu adalah pembaruan dari ruangan ini contohnya aja barang-barangnya.
Di ruang ini, jika ada barang yang baru, pasti ada barang yang rusak, extremenya,
barang seseorang sampai hilang udah jadi hal yang biasa aja disini, well itulah
ruangan ini. Faktanya, ruangan ini adalah kelas gue, dan gue namain “Ruangan
Yang Tidak Akan Pernah Sempurna”.
Dengan Karya.
rizqyraw.blogspot.com bersama evitampertiwi.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar