Introduce
Nama gue Rizqi Agung Wibawa. Dari
kecil gue biasa dipanggil Kiki. Seiring waktu berjalan nama panggilan gue
semakin bertambah. Rizqi, Dudan, Qiraw, Si Monyet yang suka parkir sembarangan.
Begitu
banyak dan begitu hinanya nama-nama panggilan gue. Hobi gue futsal,
menulis di rizqyraw.blogspot.com, dan… nge-jomblo. Cita-cita jadi
jomblo paling bahagia di dunia. Motto, hidup berawal dari jomblo. Makanan
kesukaan nasi jamblang dan combro, gue suka mereka karena namanya seirama
dengan kata jomblo. Malam ini adalah Sabtu malam (b.malam minggu), dan
waktunya tidur cepat. Good night’
Mimpi
Gue ada dimana?
Tiba-tiba gue berada diatas bukit,
dimalam hari. Duduk sendirian disebuah kursi taman, menatap sang bulan yang
tidak malu menampakan seluruh ‘tubuhnya.
“hey !” terdengar suara teriakan.
Seketika gue terkejut,
Suara siapa itu? Darimana asalnya?
Suara itu semakin keras dan semakin
membuat gue penasaran.
“Mau sampai kapan...?”
”Kapan apanya?” gue bingung.
“Mendem..”
Gue tersadar, ternyata itu
suara hati gue.
Kaget, ya gue kaget. Tiba-tiba saja
disebelah gue ada seorang cewek sedang duduk, sambil menatap bulan. Gue tahu
siapa dia, dan gue senang lihat dia.
“Hai” sapa gue.
“Hai”
“Ngobrol yuk”
“Yuk” balasnya sambil tersenyum.
ahh manis banget senyumnya. You’re
special.
Berdua, di bawah bulan___diatas
mimpi. Gue mengeluarkan semua apa yang gue pendem. Apa yang gue simpan selama
ini. Mendem perasaan itu seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Seperti bom waktu yang memiliki 2 tipe ledakan. Antara tipe 1 yang meledak jadi
air mata atau tipe 2 yang meledak jadi pengungkapan perasaan. Malam itu, di
mimpi itu.. bom waktu gue meledak dengan tipe yang kedua.
BangunTidur
Seperti biasa di hari Minggu
pagi, gue bangun pukul 8.30. Tak lupa kaki kanan terlebih dahulu
turun dari kasur, lalu kaki kiri. Kamar gue terletak dilantai 2 dan wc
terletak dibawahnya. Dengan gontai dan ditambah belek yang
masih menempel, gue menuruni tangga___karena udah mainstream turun
satu kaki satu kaki, gue turun dengan 2 kaki sekaligus.
Sampai WC
Anyway, pukul 9.00 gue baru sampai wc.
Terlalu banyak ‘rest area’ yang gue singgahi, mulai dari tembok yang berada
ditangga buat mengelap belek, lalu tembok sesudah menuruni tangga
buat mengelap dahdir dan… masih banyak lagi rest area lainnya.
Ritual menyeramkan, itu yang teman gue katakan. Memasuki wc, gue langsung
melakukan ritual menyeramkan itu. Iya be’ol. Menurut mitos teman gue
tersebut, kalau saja gue melewatkan ritual ini___maka gue bakalan
mati dengan jempol kaki menempel dilubang hidung. Menyeramkan.
“A !!!! , ENGGAL DI WC-NA. ATUH MENI
LAMI?” teriak nyokap.
“Enya muhun” gue baru sadar udah 2 jam
gue jongkok.
“ENGGAL ATUH, DA MAMAH GE
HOYONG KA CAI !!!”
Teriakan nyokap semakin
menjadi-menjadi dan menjijikan karena bahasa sundanya. Saat itu juga
gue langsung ber-instinja dan mandi selama 32 detik___rekorbaru.
Keluar WC
Rencana gue dihari Minggu ini yaitu
cuci motor, isi bensin, ngapel, polet motor (pasang kaca
film). Bagi jomblo seperti gue, hal seperti itulah yang mengisi kosongnya weekend. Pukul
12.30 gue berangkat pake motor beat hitam yang udah gue anggap sebagai pacar.
“Mah, minta uang buat cuci motor
sama polet”
“Sabaraha?”
“35 ribu”
“Sok candak 50 ribu, bisi kirang”
That’s my mom
Pergi dari rumah
Setelah mendapat si ‘biru’, gue
langsung go away dari rumah. Karena aturan memolet itu motor
harus bersih, jadi hal pertama yang gue lakukan adalah isi bensin. Lalu cuci
motor.
* Bensin kosong = Motor ga jalan =
Ga bisa kecuci steam = Ga cuci motor = Ga jadi molet
Sampai di cuci steam
“Ini mau dicuci motornya?”
“Engga mas.” jawab gue. Ada hening yang cukup
panjang.
“Ini dicucinya mau pake air?”
“Ini tukang steam otaknya kegeser atau salah
naro sih, emang yang namanya nyuci pake apaan?” pikir gue.
“Maksudnya mau pake air biasa atau salju?”
“Oh, salju aja mas.” Sorry gue suudzon.
Sambil menunggu motor beres dicuci,
gue nge-play musik dari hp___sambil pake headseat.
Lagu pertama yang gue denger adalah Semua Tentang Kita – Peterpan, ahh ingat
saat perpisahan SMP. Selama 4 menit 18 detik pikiran gue terjun ke zaman putih
biru. Sejenak gue ingat masa-masa puber, masa-masa angka jadi alfhabet, itulah
yang selalu gue ingat. Al4y.
Selesai cuci motor
Motor udah bersih, tapi uang gue
udah berkurang delapan ribu, DELAPAN RIBU MEN.
Argh !
Kenapa uang gue berkurang !!! *lengkap dengan
kamera mengambil dari atas berputar-putar
Setelah percakapan internal dengan
uang delapan ribu, akhirnya gue sampai. Di depan lampu merah, dan menunggu
45 detik.
Sampai ditempat polet
Terjadi tawar menawar yang cukup
alot ketika gue sampai disana.
“Mas, ini nge-polet bagian sisi
motor berapa?”
“Euu… 35 ribu aja.”
“Gabisa kurang” gue berusaha menawar dengan
memasang wajah serius.
“Itu udah harga pas.”
“Oh..”
“Gimana? Deal or No Deal?”
Saat itu gue mendengar
teriakan-teriakan.
‘Deal !!! Deal !!!
‘No Deal !!! No Deal !!!
Dengan pertimbangan yang matang gue
jawab,
“Deal.”
Dua jam gue menunggu. Kalau gue
ingus, mungkin sekarang gue udah jadi upil. Ketika menunggu, Hp gue
memutar lagu Aku dan Dirimu – BCL feat Ari Lasso. Tiba-tiba gue teringat
seseorang dimimpi itu, oh.. lupakan-lupakan.
Pulang kerumah
Jarum pendek berada di angka empat
dan jarum panjang berada di angka dua belas. Ya, tepat pukul 16.oo gue pulang.
Belum sempat gue sampe rumah, langit menangis. Saat itu juga gue harus berhenti
dan mencari tempat berteduh, karena gue ga bawa jas hujan.
Toko bangunan
Sejenak gue berteduh dari derasnya
tangisan langit. Disebuah toko bangunan yang cukup besar gue duduk sendirian___toko
tersebut sedang tutup.
Buset ! BDMD !
Hujan. Hujan. Terus aja hujan !
*play Hujan - Utopia.
Belum sempat lagu ini selesai, hp gue mati. Lengkap sudah penderitaan gue hari
itu.
“Alvin pake jas hujan yah, biar Mamah sama
Papah pake jaket aja” ungkap seorang wanita paruh baya.
“Iya biar Alvin ga sakit kena hujan”
tambah seorang pria.
Gue melihat 3 orang yang baru saja
berhenti tepat didepan gue. Mereka bertiga adalah Ayah, Ibu, dan Anak. Tidak
begitu lama mereka berhenti. Mereka hanya berhenti untuk memakaikan jas hujan
pada anaknya. Oh sweet moment.
Setelah gue lihat mereka, gue jadi inget sesuatu hal.
Sesuatu yang sangat penting, yang mengenalkan gue dengan dunia ini, yang selalu
melindungi gue setiap saat, yang selalu menangis ketika gue sakit, yang
mengajari gue sesuatu yang belum gue tau, yang selalu tersenyum pada gue setiap
bertemu, yang selalu mendukung apapun yang gue pilih jika itu baik, dan… yang
membantu gue tumbuh sampe saat ini.
Hari itu, gue berharap hujan cepat reda. Gue pengen
buru-buru pulang dan meluk duaMalaikat Bumi yang sangat gue sayangi itu, yang
selalu menantikan kepulangan gue ke rumah, tempat gue dilahiriin. Hujan
mengingatkan gue.
Menurut gue, hujan memang menyebalkan. Tapi dibalik
semua itu, hujan bisa menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Terhipnotis
kedalam kenangan-kenangan indah yang pernah dilalui.
(Created by: Rizqi Agung Wibawa,
2014), Cerpen Kelas.
1 komentar:
gaya penulisan yang baru that's good, tinggal di perhalus penyampaian ceritanya Raw. BTW tampilan anyar muhehe
Posting Komentar