Baru masuk SMP, tapi gue
merasa udah jadi dewasa, karena sekarang gue pake dasi. Saking semangatnya,
pukul 5 pagi gue udah sholat shubuh lengkap dengan baju seragam SMP, dan pake
dasi. Gue
sarapan pake dasi, minum pake dasi, disepatu pake dasi, minta bekel
pake dasi. Pukul 6 lewat 15 gue berangkat sekolah bareng bokap. Tapi, ada hal
darurat terjadi sebelum berangkat, perut gue berkontraksi dan kalian tau ? gue.... hari
itu boker pake dasi.
Gue sekolah
di SMPN 3 Majalengka, sekolah terbaik di kabupaten Majalengka. Gue
juga masuk kelas terbaik di SMP ini, kelas RSBI atau kelas bertaraf
Internasional, yang sekarang udah ga ada. Padahal gue sebenernya bukan anak
yang pintar, mungkin dewi fortuna saja yang selalu memihak gue, karena untuk
masuk kelas ini kita diharuskan tes tulis terlebih dahulu. Kelas gue berada
dilantai dua. Dengan dasi yang ‘benar-benar baru’ karena dasi ‘baru’ gue
sendiri kena pipis pas lagi boker, gue berjalan menuju kelas.
“Ki, kelas mana?”
tiba-tiba seseorang memukul gue dari belakang.
“Aduh ! eh Lia, kelas
7A” jawab gue sambil menahan sakit bekas pukulan.
“Yah kirain sekelas bareng aku di 7B”
Lia adalah teman gue
waktu SD, dia aslinya orang Wonosobo dan pindah ke Majalengka pas kelas 5 SD,
jadi dia anak pindahan di SD gue. Orangnya putih, rambutnya keriting, dan saat
itu dia lebih tinggi dari gue, sehingga dia bisa seenaknya menganiaya gue.
Seperti saat tadi dia memukul.
Ternyata gue paling
telat saat memasuki kelas, gue duduk sendirian dibarisan pertama dekat pintu
masuk. Suasana RSBI itu sangat berbeda dengan reguler. Di sini ada; AC, TV,
Infocus, Gordeng, Loker dan Lemari. Tapi ‘mereka’ semua bisa ada disini karena
kita bayar SPP tiap bulannya, tidak seperti kelas reguler, free.
Masih banyak wajah asing yang terlihat dari kacamata gue
sendiri, terutama yang saat MOPD memakai kerudung__sekarang tidak
lagi, seperti cewek yang gue perhatikan dari awal masuk kelas.
Ada bermacam-macam
spesies dikelas ini yang baru pertama kali gue lihat selama gue hidup. Teman
baru gue freak semua. Ini sebagian diantaranya :
Kosasih; Kepalanya
bulet, punya daun telinga gede, lebar, pokonya kaya daun talas.
Rahmat ; Dia itu kayak
karikatur, kepalanya gede banget.
Rahman; Gila... bibirnya
seksi kalau buat ukuran cowok.
Gumilar ; Hidungnya
pesek+lebar, dan kalau wajahnya diliat dari sisi, rata.
Rina ; Dua kata buat
dia, wajahnya tua.
Bella ; Punya bulu kaki
kayak cowok, keriting. Geli ngeliatnya.
Farid ; Tinggi, item, mancung, keriting. Subhanallah,
pertama kalinya gue ngeliat cewek Arab.
Sebenernya masih banyak orang freak yang belum
gue sebutin. Masih banyak.....
Jujur, gue itu orangnya
pendiem kalau berada di kawasan baru. Saat itu gue cuma duduk sambil baca novel kambing
jantan. Terlihat sekali rasa canggung pada masing-masing murid dikelas ini,
bisa dilihat dari terbaginya kelompok-kelompok kecil ketika mereka mengobrol.
Seperti teman SD gue Ulfah, Lina, dan Dewi yang asik mengobrol bertiga.
“Assalamualaikum”
Seorang guru tiba-tiba masuk kelas.
“Waallaikumsalam” kami
serentak menjawab.
“Ok langsung aja, nama
saya Resna Pena, panggil aja Bapak Resna” terangnya terburu-buru.
Saat itu gue punya empat
asumsi mengapa laki-laki tua dengan rambut depan menuju kebotakan ini
terburu-buru. Yaitu; 1) Punya keperluan lain di luar. 2) Lupa kalau wc tempat
tadi pipis belum disiram. 3) Telat pake kalpanax, karena terlihat gelisah
diselangkangan. 4) Mengidap penyakit parah. “Selalu terburu-buru dimanapun”.
“Bapak ini guru Biologi
sekaligus wali kelas kalian” tambahnya.
Singkatnya, hari ini
adalah hari perkenalan. Satu persatu dari kami memperkenalkan diri didepan
kelas. Setelah perkenalan selesai, Pak Resna langsung pergi keluar, katanya dia
punya keperluan mendadak. Ternyata asumsi pertama yang menurut akal sadar gue
yang benar. Sebelum keluar, Pak Resna ber-amanat agar kita membentuk struktur
organisasi kelas.
“Gum, lu aja jadi KM !” teriak Rahman yang
memang sudah jadi teman dekat semenjak MPOD
“Udah Gumilar sama Wuni yang dicalonin jadi
KM-nya” serentak anak kelas memilih keduanya.
Dalam waktu 5 menit,
hasil real count menyebutkan; 9 suara untuk Gumilar, dan
16 suara untuk Wuni. Gumilar kalah telak, itupun 9 suara dari laki-laki semua,
termasuk dia memilih dirinya sendiri. Wuni lah KM 7A, jika kalian bertanya
siapa Wuni ? itulah perempuan yang menarik perhatian gue. Dari awal masuk,
suara dia lah yang paling berisik. Terlihat seperti tomboy, rambut sebahu dan
memakai jam warna hijau saat itu.
Memang dunia tidak adil,
Gumilar kalah karena ada kebiasaan ‘Wanita pilih wanita’. Ketika orang lain
sibuk ingin berada di struktur organisasi, gue malah tetap diam sambil
memperhatikan Wuni mengurusi anak-anak yang ingin memiliki jabatan remeh temeh
dikelas. Gue benar-benar pendiam hari itu.
“Ki, jadi seksi ke-Pramukaan yah ?”
Tiba-tiba Wuni mendekati gue.
“Eh apa tadi ?” gue yang sedari tadi merhatiin
dia kaget.
“Kamu jadi seksi ke-Pramukaan yah” ulangnya
sambil tersenyum.
“Iya terserah.” Jantung gue
tiba-tiba berderup kencang, saking ga bisa ngontrol gue cuma bisa ngejawab
pendek.
Mungkin hari itu gue
pendiam, tapi dihari itu jantung gue ga bisa diam. Hari itu juga membuat gue
yang ga pernah percaya satu hal tentang cinta menjadi percaya, bahwa Love
at first sight itu benar-benar bisa terjadi.

2 komentar:
So sweat.... i like this :) :) :)
Thx yaa, sering mampir :)
Posting Komentar